Rabu 02 Agustus 2017. Contoh Soal Kata Konotasi dan Lambang dalam Puisi - Kata konotasi atau kata kiasan adalah kata yang memerlukan penafsiran untuk mengetahui isi/maknanya. Kata-kata konotasi/kiasan mengandung makna ganda (makna konotatif) sehingga untuk memahaminya seseorang harus menafsirkannya dengan melihat bagaimana hubungan
Arifin, R. 2018. Semiotika Kultural dalam Pemertahanan Bahasa pada Acara Babalai Suku Dayak Paramasan. Jurnal Tarbiyah Jurnal Ilmiah Kependidikan, 72, 87–92. Dhapa, D., & Febronia Novita. 2022. Majas Metafora dalam Puisi-puisi karya Bara Pattyradja. Sintaks Jurnal Bahasa & Sastra Indonesia, 22, 137–144. Haisyah, Yuliana, & Mawarni, A. R. S. 2020. Meningkatkan Kemampuan dalam Membaca Puisi pada SMP/Mts. Prosiding Samasta, 1–6. Herianah. 2017. Gaya Bahasa Dalam Sastra Lisan Wolio. Sawerigading, 231, 49–51. Idayati, H., Munaris, M., & Fuad, M. 2016. PENGEMBANGAN BAHAN AJAR APRESIASI PUISI KONTEMPORER BERBASIS MODEL SUCHMAN. J-Simbol Bahasa, Sastra, Dan Pembelajarannya, 32, 1–11. Inayati, T., Pecangaan-jepara, S. M. A. N., & Tengah-indonesia, J. 2016. Simbol dan Makna pada Puisi Menolak Korupsi Karya Penyair Indonesia. Seloka Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 52, 163–171. Kamagi, L. 2015. Nilai-Nilai Humaniora Dalam Antologi Puisi “Blues Untuk Bonnie” Karya Ws Rendra. BAHTERA Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra, 141, 26–38. Kusyani, D., & Siregar, R. A. 2020. Semiotik dalam Kumpulan Puisi Orang-Orang Rangkasbitumg Karya W. S. Rendra. Prosiding Seminar Linguistik Dan Sastra SEMANTIKS 2020, 449–457. Rossandy, A. N. B. 2016. Hakikat Hidup Manusia Dengan Sesamanya Dalam Tembang Macapat. Edu-Kata, 32, 189–196. Saptawuryandari, N. 2013. Analisis Semiotik Puisi Chairil Anwar Semiotic Analysis of Chairil Anwar’s Poems. Kandai, 91, 95–104. Sari, R. R. A. 2017. Kajian Struktur Puisi Karya Siswa Kelas V Sdn Mrican 4 Kota Kediri Tahun Pelajaran 2016/2017. Simki-Pedagogia, 0106, 1–9. Siti, N., & Ramdan, F. 2022. ANALISIS GAYA BAHASA DALAM LIRIK LAGU “ CINTA LUAR BIASA ” ANDMESH KAMELANG. Sinar Dunia Jurnal Riset Sosial Humaniora Dan Ilmu Pendidikan, 13, 29–33. Suskandiati, S. 2019. Analisis Stilistika Kumpulan Puisi ”Deru Campur Debu” Karya Charil Anwar. Edu-Kata, 52, 129–138. Syam, A. J., Niampe, L., & Sahidin, L. O. 2022. JOTE Volume 4 Nomor 2 Tahun 2022 Halaman 705-713 JOURNAL ON TEACHER EDUCATION Research & Learning in Faculty of Education Majas Perbandingan dalam Puisi Surat Cinta Karya WS Rendra. JOURNAL ON TEACHER EDUCATION, 42, 705–713. Yuliantini, T. 2018. Kajian Stilistika Terhadap Diksi Dalam Kumpulan Puisi Malu Aku Jadi Orang Indonesia Karya Taufiq Ismail Serta Pemanfaatannya Sebagai Bahan Ajar Bahasa Indonesia Di Smk Stilistics Study on the Directors in Poetry Point Me So the Indonesian People W. Wistara, 21, 36–45.
Amanat yang dapat kita petik dari puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” adalah belajar untuk bisa bangkit dari keterpurukan yang disebabkan oleh cinta. Kegagalan dalam sebuah hubungan cinta bukanlah akhir dari segalanya. Kegaglan tersebut perlu kita hayati dan renungkan secara baik untuk langkah baru yang perlu diperjuangkan.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan hasil cipta manusia selain memberikan hiburan juga saratdengan nilai, baik nilai keindahan maupun nilai- nilai ajaran hidup. Orang dapat mengetahui nilai-nilai hidup, susunan adat istiadat, suatu keyakinan, dan pandangan hidup orang lain ataumasyarakat melalui karya sastra. Dengan hadirnya karya sastra yang membicarakan persoalan manusia, antara karya sastra dengan manusia memiliki hubungan yang tidak terpisahkan. Sastra dengan segala ekspresinya merupakan pencerminan dari kehidupan manusia. Adapun permasalahan manusia merupakan ilham bagi pengarang untuk mengungkapkandirinya dengan media karya sastra. Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter dalam Tarigan, 19864 menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang menciptakan melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi. Baris-baris pada puisi dapat berbentuk apa saja melingkar, zigzag dan lain-lain. Haltersebut merupakan salah satu cara penulis untuk menunjukkan pemikirannnya. Puisi kadang-kadang juga hanya berisi satu kata/suku kata yang terus diulang-ulang. Bagi pembaca haltersebut mungkin membuat puisi tersebut menjadi tidak dimengerti. Tapi penulis selalumemiliki alasan untuk segala 'keanehan' yang diciptakannya. Tak ada yang membatasikeinginan penulis dalam menciptakan sebuah satra yang baik senantiasa mengandung nilai Volue. Nilai itu dikemas dalamwujud struktur karya sastra, yang secara implisit terdapat dalam alur, latar, tokoh, tema, danamanat atau di dalam larik, rima, dan yang terkandung dalam karya sastra ituadalah, nilai hedonic, nilai artistik, nilai kultural, nilai etis, moral, atau agama, nilai praktis. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, identifikasi masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut a. menganalisis aspek sintaksis dan semantic Puisi Senja di Pelabuhan Kecil, karya Chairil Anwar b. menjelaskan aspek Prosodi Puisi Senja di Pelabuhan Kecil, karya Chairil Anwar c. menjelaskan aspek Pragmatis Puisi Senja di Pelabuhan Kecil, karya Chairil Anwar C. Pembatasan Masalah Berdasarkan latar belakang yang sangat luas dan bersifat umum, penulis akhirnya membatasi permasalahan hanya dalam analisis semantic, sintaksis, prosodi dan pragmatis. D. Perumusan Masalah Dari uraian pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada makalah ini adalah a. menganalisis aspek sintaksis dan semantic Puisi Senja di Pelabuhan Kecil, karya Chairil Anwar b. menjelaskan aspek Prosodi Puisi Senja di Pelabuhan Kecil, karya Chairil Anwar c. menjelaskan aspek Pragmatis Puisi Senja di Pelabuhan Kecil, karya Chairil Anwar E. Tujuan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut a. Untuk menganalisis aspek sintaksis dan semantic Puisi Senja di Pelabuhan Kecil, karya Chairil Anwar b. Untuk menganalisis aspek Prosodi Puisi Senja di Pelabuhan Kecil, karya Chairil Anwar c. Untuk menganalisis aspek Pragmatis Puisi Senja di Pelabuhan Kecil, karya Chairil Anwar F. Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini diambil dari situs di internet yang di posting oleh Ruth Riska Tobing pada tangal 26 Oktober 2012. G. Kerangka Teori Aspek Prosodi/Persajakan Menurut KBBI edisi ke V, menjelaskan bahwa Prosodi adalah suatu kajian tentang persajakan, yaitu mengkaji tekanan, matra, rima, dan bait dalam sajak. Hal-hal yang mencakup prosodi/persajakan akan dijabarkan sebagai berikut Tekanan Tekanan merujuk kepada bunyi kata yang diucapkan lebih lantang daripada yang lain atau pengucapan kata yang digunakan untuk menyampaikan sesuatu maksud seperti rasa marah atau sebagai desakan kepada juga merupakan suatu cara menyebut perkataan, frasa atau kalimat dengan memberi penekanan pada tempat tertentu, terutama pada suku kata dengan tujuan untuk menandakan keras atau lembut sesuatu pengucapan. Oleh karena itu, tekanan dapat terletak pada suatu kata. Menurut KBBI, tekanan umumnya terletak pada suku akhir. Matra Menurut KBBI V, matra adalah bagan yang dipakai dalam penyusunan baris sajak yang berhubungan dengan jumlah panjang atau tekanan suku kata. Rima Aspek Semantik Menurut Zaimar aspek semantik memiliki beberapa unsur dan dalam aspek semantik terdapat dua hubungan, yaitu Hubungan sintagmatik, terdapat dua aspek yang dianalisis yaitu urutan peristiwa dan fungsi utama Hubungan paradigmatik, terdapat dua aspek yang dianalisis yaitu indeks dan informan. Aspek tokoh dan latar ruang dan waktu diperoleh dari analisis aspek semantik. Analisis Tokoh Dalam karya sastra tradisional, tokoh mempunyai fungsi mimesis. Ia menggambarkan manusia yang “sebenarnya”. Dalam aspek referensial ini, tokoh mempunyai nama walau kadang tidak spesifik. Penggambaran tokoh ini digunakan untuk menunjukkan koherensi tindakan tokoh dalam karya. Penggambaran ini dikemukakan oleh pencerita, tetapi dapat pula di lakukan oleh tokoh lain. Analisis Ruang Ruang terutama digunakan untuk memberikan kesan realis pada karya. Dalam hal ini penulis mementingkan deskripsi dengan keterangan-keterangan rinci dan khas. Apabila keterangan ruang ini tidak jelas, kesan yang ditimbulkan adalah bahwa peristiwa yang diceritakan bisa terjadi dimana saja. Analisis Waktu Seperti juga ruang, waktu berfungsi untuk menjadikan cerita berakar dalam realita. Tanggal, bulan, dan tahun tertentu yang disebut dalam novel atau cerpen menyebabkan pembaca merasa bahwa peristiwa yang diceritakan benar-benar terjadi; Selain itu termasuk juga ke dalam cerita durasi, yaitu berapa lama cerita berlangsung. Aspek Pragmatik Secara umum pendekatan pragmatik adalah pendekatan kritik sastra yang ingin memperlihatkan kesan dan penerimaan pembaca terhadap karya sastra. Munculnya pendekatan pragmatik bertolak dari teori resepsi sastra dalam khasanah pemahaman karya sastra yang merupakan reaksi terhadap kelemahan-kelemahan yang terdapat pada pendekatan struktural. Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang memandang puisi sebagai sesuatu yang dibangun untuk mencapai efek-efek tertentu pada audience pembaca atau pendengar, baik berupa efek kesenangan estetik ataupun ajaran/pendidikan maupun efek-efek yang lain. Pendekatan ini cenderung menilai puisi berdasarkan berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan tersebut. Selain itu, pendekatan ini menekankan strategi estetik untuk menarik dan mempengaruhi tanggaan-tanggapan pembacanya kepada masalah yang dikemukakan dalam puisi. Dua pembaca yang sama akan menerima pesan yang berbeda walaupun mereka dihadapkan pada puisi yang sama. BAB II PEMBAHASAN A. Analisis Prosodi Puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” termasuk puisi modern. Hal itu dapat kita lihat dari struktur baris dan baitnya. Adanya tanda titik di tengah baris menunjukkan perbedaan puisi tersebut dari puisi lama dan puisi baru. Puisi diatas terdiri atas tiga bait dan tiap-tiap bait dibentuk oleh empat baris. Seluruh bait dan baris mengungkapkan tema kedukaan atas cinta. Tema tersebut, antara lain, tampak pada penggunaan bahasanya. Kata-kata, penggambaran alam, dan suasana yang dilukiskan oleh penyair membantu mengungkapkan tema itu. Dalam puisi ini memang banyak efek kakafoninya sehingga tidak bisa dikatakan puisi merdu. Banyak bunyi yang mengandung k,p,t,s seperti kali, cinta, di antara, tua, cerita, tiang serta temali, kapal, perahu, mempercaya, berpaut, mempercepat, kelam, kelepak, pangkal, akanan, kini, tanah, tidur, tiada, aku sendiri, semenanjung, pengap, masih, sekali, tiba,sekalian, selamat, pantai, keempat, penghabisan, terdekap, dan bisa. Kata-kata itu menimbulkan efek kakafoni, aliterasi tidak-bergerak, pengap-harap serta asonansi ini-kal dan, pada-cerita. Gabungan beberapa unsur bunyi yang terpola tersebut menimbulkan irama yang panjang, lembut dan rendah. Karena irama tersebut menggambarkan kasedihan yang ada pada puisi terbut. Karena irama sajak juga merupakan gambaran akan suasana puisi tersebut. Rima Bait 1 a-a-b-b ta, ta, ut, ut Bait 2 a-a-b-b ang, ang, ak, ak Bait 3 a-b-a-b an, ap, an, ap B. Aspek Pragmantik Bait Pertama Karena cintanya kepada Sri Ayati gagal, penyair merasakan kehampaan dalam hatinya. Cintanya sudah hilang, kisah-kisah masa lalunya yang indah rumah tua pada cerita yang sebelumnya dipenuhi oleh hubungan cintanya dengan sang kekasih pada cerita tiang serta temali kini tiada lagi. Kenangan tentang cintanya itu gudang sangat memukul hatinya. Hatinya tidak lagi dipenuhi oleh keceriaan, harapan, dan hiburan menghembus diri bagaikan perahu yang tidak mempunyai laut. Penyair kehilangan kepercayaannya kepada cinta dalam mempercaya mau berpaut. Hatinya beku seperti mati, tanpa harapan, karena orang yang dicintainya telah meninggalkan diri penyair kapal yang tidak berlaut seperti halnya hidup yang tidak berarti. Bait Kedua Duka hati peyair menambah kelemahan dalam jiwanya. Karena sepi dan kelam itu, suara kelepak elang dapat didengarnya. Suara itu lebih memperdalam kedukaanya, membuat hatinya lebih muram. Harapan-harapan untuk dapat berjumpa dengan kekasih timbul tenggelam seperti hari lari berenang, tetapi kemudian muncul bujukan pangkal akanan. Penyair masih diombang-anbingkan oleh perasaan antara munculnya kembali harapan untuk bercinta kembali dengan sang kekasih dan putusnya harapan itu. Namun, kemudian disadari bahwa harapan yang timbul dan tenggelam itu harus dilupakan karena kekasihnya tidak akan kembali lagi tanah, air tidur, hilang ombak. Jika pada bait pertama perahu kehilangan laut, kini tanah dan air di pantai itu kehilangan ombak. Cinta penyair tinggal bertepuk sebelah tangan akan menimbulkan kedukaan yang sangat dalam. Pada bait kedua, perhatian penyair menyimpit pada suasana alam di pantai. Pada bait pertama perhatian penyair lebih luas tertuju pada bangunan-bangunan yang nampak remang-remang di pantai itu. Bait Ketiga Penyair merefleksikan diri. Semua kejadian itu kemudian dipantulkan kepada dirinya sendiri. Aku liris sudah muncul secara eksplisit. Kekelaman dan rasa mencekam karena cintanya yang gagal direnunginya sendiri. Dia masih sering mengharapkan cintanya akan kembali padanya. Dalam kesendirian dan kehampaan itu, ia merasa suatu ketika sang kekasih akan menemaninya pengap harap. Namun, setelah mendengar jawaban Sri Ayati bahwa dia sudah punya calon suami, kembalilah harapan penyair itu musnah. Bahkan, hilangnya harapan itu dipertegas dengan sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan. Kini penyair tidak lagi menggambarkan hilangnya harapan itu dengan perahu yang tidak berlaut atau tanah, air tidur, hilang ombak, tatapi dengan lebih tegas sekalian selamat jalan. Kalau “selamat jalan’’ sudah diucapkan, itu berarti tidak diharapkan lagi. Dengan demikian, kesedihan penyair kini jauh lebih mendalam. Ratap tangis yang diderita dalam hati menggema sampai jauh, bahkan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap. Sangat mendalam duka penyair itu karena kehilangan orang yang dicintai. Orang itu memberikan harapan-harapan yang kadang nyata kadang hilang, sehingga pelabuhan harapan itu disebut kecil. C. Aspek Semantik dan Sintaksis Desir Hari Berenang menuju bujuk pangkal akanan > Hari hari telah berlalu dan berlalu dan berganti dengan masa mendatang Mempercaya mau berpaut > Tiada lagi harapan Diantara gudang, rumah tua > Sesuatu yang tidak berguna, seperti si Penyair yang dianggap tidak berguna lagi Majas Metafora Diantara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut Harapannya kandas bagai kapal dan perahu yang tidak melaut karena menghempaskan diri dipantai saja Personifikasi Diantara gudang, rumah tua pada cerita Rumah tua yang seakan mampu untuk bercerita Ada juga kelepak elang menyinggung muram Kelepak elang yang seakan mampu menyinggung perasaan orang yang sedang muram Hiperbola Kini tanah dan air tidur hilang ombak Kalimat ini melebih-lebihkan dalamnya kebekuan hati seseorang yang digambarkan Chairil Anwar termasuk penyair Angkatan 45. Angkatan tersebut banyak mengungkapkan aliran realisme dan ekspresionisme. Ekspresi jiwa penyair lebih utama dari kesan-kesan. Judu puisi “Senja di Pelabuha Kecil” tidak mengungkapkan kesan penyair terhadap suatu pelabuhan kecil, tetapi hanya wakil keadaan jiwa Chairil pada waktu puisi itu diciptakan. Kalau demkian, senja merupakan lambang ekspresi jiwa. Demikian pula dengan pelabuhan kecil. Jadi, dalam hal ini kita berhubungan dengan “senja” dan “pelabuhan” yang “kecil”. Senja melambangka suasana perpisahan atau pergantian atara siang dan malam. Pelabuhan adalah tempat bermula dan berakhirnya suatu perjalanan. Pelabuhan dapat juga melambangkan impian seseorang. Di sini pelabuhan dapat ditafsirkan sebagai impian, cita-cita, atau harapan. Harapan itu kecil karena pelabuhan yang digambarkan oleh penyair itu pun kecil, malah kemudian berpisah dengan harapan itu sehingga ia berduka karenanya. Pernyataan “Buat Sri Ayati” harus dihubungkan dengan aliran realisme yang dianut oleh penyair. Chairil sering menyebut nama-nama wanita yang terlibat cinta dengan dirinya. Kalau demikian, Sri Ayati bukan sekedar nama indah untuk melengkapi puisinya, tetapi nama gadis yang benar-benar berurusan dengan penyair. Chairil menaruh harapan kepada gadis itu hingga suatu saat ia menyatakan cintanya. Namun, cintanya tidak mendapat sambutan karena sang gadis telah memiliki calon suami yang bahkan dikenal oleh penyair. Jadi, jelaslah bahwa puisi di atas bertema kedukaan karena kegagalan cinta penyair terhadap Sri Ayati. Unsur Batin Puisi Tema kedukaan yang mendalam karena kegagalan cinta. Nada pengarang menceritakan kegagalan cintanya dengan nada ratapan yang sangat mendalam, karena lukanya benar-benar sangat dalam. Perasaan pengarang merasakan kesedihan, kedukaan, kesepian, dan kesendirian itu disebabkan oleh kegagalan cintanya dengan Sri Ayati. Bahkan sedu tangisnya menggumandang sampai ke pantai ke empat karena kegagalan cintanya. Amanat pengarang ingin mengungkapkan kegagalan cintanya yang menyebabkan hatinya sedih dan tercekam. Kegagalan cintanya yang menyebabkan seseorang seolah-olah kehilangan segala-galanya. Cinta yang sungguh-sungguh dapat menyebabkan seseorang memahami apa arti kegagalan secara total. BAB IV KESIMPULAN Dari uraian tentang puisi “Senja di Pelabuhan Kecil’’ tersebut, dapat disimpulkan bahwa puisi ini mempunyai nilai literer yang tinggi. Penyair mengungkapkan perasaan dukanya yang kuat melalui struktur bahasa dan struktur batin yang selaras. Harmoni antara struktur bahasa dan struktur batin itu tidak membuat pembaca sukar menafsirkan maknanya. Maka konotatif dalam puisinya masih dapat didekati oleh pembaca, bahkan makna konotatif itu menyebabkan puisinya menjadi intens dan kaya akan makna. DAFTAR PUSTAKA Ratna, Nyoman Khuta. Sosiologi Pustaka Pelajar Tim Kemdikbud. 2015. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi V. Jakarta Pusat Bahasa Waluyo, Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta Erlangga.
ANALISIS SAJAK SENJA DI PELABUHAN KECIL KARYA CHAIRIL ANWAR (a) Diksi Pilihan kata dalam puisi ini terlihat biasa dan terkesan kata-kata yang digunakan dalam kesehariaannya. Tetapi arti katanya bukan arti yang sebenarnya.
SENJA DI PELABUHAN KECIL buat Sri Ajati Sebuah Senja untuk Sri Arjati foto Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak. Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap 1946 1. Analisis Diksi Pilihan kata dalam puisi ini terlihat biasa dan terkesan kata-kata yang digunakan dalam kesehariaannya. Tetapi arti katanya bukan arti yang sebenarnya. Walaupun dengan kata-kata yang biasa tapi Chairil memberikannya sebaagai kata-kata yang mengandung makna konotasi. Seperti kata gudang, rumah tua pada cerita, tiang serta temali. Bagi penyair gudang dan rumah tua dianggap sebagai sesuatu yang tak berguna seperti dirinya yang dianggap tiada berguna lagi. Kata ”mempercaya mau berpaut” itu sebenarnya juga berarti harapan Chairil akan kekasihnya. Pilihan kata seperti kelam dan muram juga memberi kesan pada makna kesedihan yang dirasakan. Kata menemu bujuk pangkal akanan juga merupakan harapan penyair. Sedangkan kata tanah dan air yang tidur juga menyatakan suatu kebekuan. Chairil mampu mengolah pilihan katanya sebaik mungkin walaupun dengan bahasa percakapan tapi mampu menghadirkan makna yang dalam. Hanya ada satu kata yang tidak biasa diucapkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu akanan. 2. Analisis Efoni dan Irama Chairil bukanlah penyair yang selalu terikat pada peratturan sehingga kadang-kadang dia tak pernah memperhatikan bunyi yang ada dalam puisinya. Baginya menulis puisi itu adalah suatu kebebasan. Meskipun demikian dalam puisi ini Chairil tetap memperhatikan bunyi walau tidak terlihat secara mencolok. Dalam puisi ini memang banyak efek kakafoninya sehingga tidak bisa dikatakan puisi merdu. Banyak bunyi yang mengandung k,p,t,s seperti kali, cinta, di antara, tua, cerita, tiang serta temali, kapal, perahu, mempercaya, berpaut, mempercepat, kelam, kelepak, pangkal, akanan, kini, tanah, tidur, tiada, aku sendiri, semenanjung, pengap, masih, sekali, tiba,sekalian, selamat, pantai, keempat, penghabisan, terdekap, dan bisa. Kata-kata itu menimbulkan efek kakafoni, meskipun terdapat rima, aliterasi dan asonansi. Seperti rima aabbccddefef , aliterasi tidak-bergerak, pengap-harap serta asonansi ini-kal dan, pada-cerita. Gabungan beberapa unsur bunyi yang terpola tersebut menimbulkan irama yang panjang, lembut dan rendah. Karena irama tersebut menggambarkan kasedihan yang ada pada puisi terbut. Karena irama sajak juga merupakan gambaran akan suasana puisi tersebut. 3. Analisis Penggunaan Bahasa Kiasan Ketidak berdayaan itu dibandingkan Chairil sebagai sebuah gudang, rumah tua, tiang, dsan temali yang tiada berguna. Harapannya kandas bagai kapal dan perahu yang tidak melaut karena mennghempaskan diri di pantai saja. Serta kebekuan hati bagai air dan tanah yang tidur dan tidak bergerak. Selain itu juga terdapat personifikasi pada rumah tua pada cerita, ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang, dan kini tanah dan air tidur hilang ombak dan sedu penghabisan bisa terdekap. Dari kata-kata itu penyair menghidupkan rumah tua yang seakan mampu becerita, dan menghidupkan juga kelepak elang yang mampu menyinggung perasaan orang yang sedang muram. Hari pun dikatakan penyair seakan berlari dan berenang menjauhi dia sehingga dia tidak bisa memutar balik waktu itu. Dia juga berusaha menidurkan tanar dan air sehingga merasa dalamlah kebekuan hati seseorang yang digambarkan. Semuanya ini menyebabkan hanya sendu yang bisa ia peluk bukan orangnya. Sinekdok terlihat pada kata tiang yang sebenarnya adalah rumah, kata kapal dan perahu yang berarti pelabuhan. Kalimat dan kini tanah dan air tidur hilang ombak juga merupakan ungkapan yang hiperbola karena melebih-lebihkan kedekuan hati sang gadis itu. Bahasa kiasan tersebut sebenarnya hanya ingin mengungkapkan makna yang lebih mendalam pada pembaca. 4. Citraan citran yang ada dalam puisi adalah penglihatan ’imagery. Yang mengisyaratkan bahwa pelabuhan kecil itu merupakan tempat perpisahanya. Seolah-olah puisi ini membawa pembaca dengan inderanya untuk melihat suasana pelabuhan yang kecil dan seakan-akan mati. Dengan khayalan yang sudah tergambar Chairil mencoba lagi membawa pembaca lewat puisinya ke dunianya tersebut agar bisa merasahan kesedihan yang dia rasakan. citraan penglihatan tersebut terlihat dari diantara gudang, rumah tua pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tidak berlaut Kalimat tersebut mengajak pembaca mendalami kesunyian yang ada dalam pelabuhan itu dengan melihat keadaan pelabuhan. Dan hal itu sesungguhnya gambaran dari kesunyian sang penyair juga. [disarikan dari berbagai sumber ] 1. Struktur Batin. a. Tema. Tema di dalam puisi ‘Kesabaran’ karya Chairil Anwar ini menceritakan tentang kesabaran penulis dalam menghadapi orang lain di dalam hidupnya. b. Perasaan. Perasaan dalam puisi ini ialah perasaan penyair yang berusaha sabar dalam menghadapi hidup dan ia tidak perduli dengan apa yang dikatakan orang lain tentang
inproceedings{Rostina2021ANALISISP, title={ANALISIS PUISI “SENJA DI PELABUHAN KECIL” KARYA CHAIRIL ANWAR DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN MIMETIK}, author={Rostina S Rostina and Rochmat Tri Sudrajat and Aditya Budi Permana}, year={2021} }Karya sastra bukan hanya sebuah bentuk karya yang mengandung keindahan namun karya sastra juga mengandung makna di dalamnya. Puisi merupakan karya sastra yang bersifat imajinatif, dirangkai dengan kata yang estetis dan sederhana namun tidak mudah dipahami oleh para pembaca terlebih tanpa ilmu dalam menganalisis puisi. Seringali makna puisi dianalogikan ke dalam objek lain sehingga makna puisi tersembunyi dibalik eloknya kata. Puisi dapat menjadi motivasi bagi para pembaca terlebih untuk
 2 Citations14 ReferencesHatiku Selembar Daun" karya Sapardi Djoko Darmono. Parole Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia2018Teori pengantar fiksi1981Analisis lagu marudan marlaniari karya Hj. Farida Matondang dengan pendekatan mimetik2017
Dengan landasan prinsip di atas,Teeuw membandingkan puisi Chairil Anwar ”Senja di Pelabuhan Kecil” dengan puisi Amir Hamzah”Berdiri Aku” yang merupakan hipogramnya. Dalam hal ini puisi”Berdiri Aku” ditanggapi atau ditransformasikan Chairil Anwar dengan sikapnya yang berbeda dalam menanggapi senja di pantai.

Tulisan ini merupakan tugas Pelatihan Daring Program Guru Pembelajar yang diunggah ke Kelas KK F Jember. Disusun Oleh M. Nasiruddin Timbul Joyo SMP PGRI Jengawah SENJA DI PELABUHAN KECIL Karya Chairil Anwar Buat Sri Aryati Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak. Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap 1946 Analisis Struktur Batin Puisi Senja di Pelabuhan Kecil’ Karya Chairil Anwar Struktur Batin puisi adalah Struktur yang ada dalam puisi yang berkaitan dengan makna puisi. Makna puisi dapat dikupas berdasarkan empat jenis paparan yaitu berkaitan dengan tema, feeling atau perasaan penyair tentunya berdasarkan pengamatan pembaca puisi, nada atau suasana puisi, yang terakhir adalah amanat. 1. Tema Puisi Senja di Pelabuhan Karya Chairil Anwar’ Tema yang ada dalam puisi di atas adalah tema Kemanusiaan’ lebih spesifik lagi tentang persaan Aku’ si penyair kepada orang yang tidak lagi dicintaiya’. Merujuk pada penjelsan judul Buat Sri Aryati’, maka puisi tersebut bertema tentang perasaan cinta yang sudah hilang dari seorang aku’ kepada kekasihnya yang bernama Sri Aryati’. Ini kali tidak ada yang mencari cinta Baris pertama puisi tersebut menunjukkan bahwa sudah tidak ada lagi yang mencari cinta. Ini kali merupakan ciri khas Chairil untuk menulis Kali ini, analisis semacam ini bisa dilhat di Di bagian akhir puisi, ada baris yang berbunyi Menyisir semenanjung, masih pengap harap Menunjukkan bahwa harapannya masih belum ada, masih pengap. Sementara di akhir puisi, sedu penghabisan bisa terdekap. Menunjukkan bahwa dia mulai bisa menguasai diri dengan menahan sedu atau kesedihannya yang kehilangan kekasihnya. 2. Feeling atau Perasaan Penyair dalam Puisi Senja di Pelabuhan Karya Chairil Anwar Perasaan Penyair yang ada dalam puisi di atas adalah perasaan cinta yang putus asa. Hal itu tergambar dari pilihan kata yang sangat keputus asaan. Kapal, perahu tiada berlaut Tiada lagi. Aku Sendiri. Berjalan Baris-baris di atas menunjukkan bahwa aku’ sedang kesepian dan putus asa terhadap keadaannya. Keputus-asaan itu semakin jelas tergambar dalam baris yang berbunyi Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan Tiba di ujung menunjukkan bahwa itu sebuah akhir perjalanan. Perjalanan yang dimaksud adalah usaha untuk menemukan cintanya. Bahkan diakhiri selamat jalan’. Selamat jalan merupakan salam perpisahan. 3. Nada dan Suasana dalam Puisi Senja di Pelabuhan Karya Chairil Anwar Suasana yang tergambar dalam puisi karya Chairil Anwar tersebut merupakan susana sedih. Hal ini terlihat dari beberapa kata yang digunakan misalnya kelam, muram, senja, rumah tua, pengap. Masing-masing kata di atas menunjukkan kesedihan. Judul puisi Senja di Pelabuhan Kecil’ Kata senja menunjukkan akhir hari dan datangnya gelap. Beda dengan pagi hari dan siang hari yang identik dengan keceriaan. Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang Kata kelam dan muram menunjukkan suasana kesedihan. Seperti halnya senja, kelam menunjukkan kesedihan. Muram, adalah kondisi yang berlawanan dengan ceria. Begitu juga dengan rumah tua dan pengap merupakan kondisi yang tidak nyaman. Kondisi yang memunculkan kesulitan dan ketidak-nyamanan. Rumah tua, yang masih bagus dan nyaman ditempati pasti disebu dengan rumah antik atau rumah kuno sementara kondisi pengap menunjukkan kesulitan bernafas. Baca Juga Kata Konkret dalam Puisi Senja di Pelabuhan Kecil 4. Amanat Puisi Senja di Pelabuhan Karya Chairil Anwar Adapun amanat yang terkandung dalam puisi karya Pelopor Angkatan 45 tersebut adalah Janganlah bersedih terus-menerus. Hentikan usaha bagi sesuatu yang sudah tidak mungkin lagi diraih apalagi dalam hal percintaan. Teruslah berjalan, mencari pemberhentian kesuksesan yang lain karena di tempat lain yang terus kita jalani “di pantai ke empat” berarti setelah melalui beberapa perjuangan baru kesedihan akan bisa ditahan “sedu penghabisan bisa terdekap”. Materi ini tidak dapat disalin-tempel copy-paste tetapi dapat didownload. Silahkan download dengan mengkeklik tautan berikut ini Unduh Selamat belajar Puisi! Teruslah mencari informasi yang tepat tentang puisi, Salam Pustamun!

Berikutini contoh analisis puisi dengan pendekatan objektif dengan mengacu pada langkah-langkah penelaahan puisi seperti yang dikemukakan oleh Waluyo (1987:18). di karenakan tidak adanya sang pujaan hati. Yang mendampingi kita dalam menjalani sebuah kehidupan. Puisi senja di pelabuhan kecil menceritakan tenntang bagaimana kisah Saturday May 16, 2015. Puisi senja di pelabuhan terakhir. Pengertian pelababuhan adalah. tempat berlabuh atau suatu fasilitas di ujung samudra , sungai, atau danau untuk menerima bahtera serta memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. Puisi senja di pelabuhan terakhir, merupakan tema puisi senja yang diupdate dikesempatan 319votes, 32 comments. 99.2k members in the indonesia community. Selamat datang di subreddit kami! Welcome to our subreddit! Please follow rules
\n\n \n\nanalisis puisi senja di pelabuhan kecil
This study intends to describe the character values in the short novel entitled”Faded Pesona Cleopatra”by Habiburrahmman El Shirazy. The method used is descriptive qualitative. The data souce that the researchers took was a short novel entitled Pudarnya PTRA Cleopatra by Habibburahman El Shirazy. Data retrieval is done by understanding and reading the short novel carefully and the
.
  • jlf4c4lann.pages.dev/427
  • jlf4c4lann.pages.dev/236
  • jlf4c4lann.pages.dev/62
  • jlf4c4lann.pages.dev/895
  • jlf4c4lann.pages.dev/491
  • jlf4c4lann.pages.dev/531
  • jlf4c4lann.pages.dev/256
  • jlf4c4lann.pages.dev/122
  • jlf4c4lann.pages.dev/396
  • jlf4c4lann.pages.dev/404
  • jlf4c4lann.pages.dev/283
  • jlf4c4lann.pages.dev/516
  • jlf4c4lann.pages.dev/411
  • jlf4c4lann.pages.dev/780
  • jlf4c4lann.pages.dev/372
  • analisis puisi senja di pelabuhan kecil